Beberapa waktu lalu saat saya mulai mengenal Open Source Software (OSS) khususnya Linux, saya sering bertanya pada salah seorang kerabat saya yang mahir dalam hal-hal Open Source Software khususnya Linux. Namanya adalah Mas Agung. Banyak hal yang saya tanyakan, karena saya yang newbie ini belum mengetahui banyak hal mengenai Open Source Software dan Linux. Bukan berarti saya berniat menghujani Mas Agung dengan berbagai macam pertanyaan-pertanyaan, niat saya hanyalah untuk mendapatkkan lebih banyak ilmu tentang Open Source Software, dan Mas Agung memang menyarankan agar saya banyak bertanya, baik itu di forum online atau langsung bertemu dengannya. Intinya, ia sangat senang pada siapapun yang berniat mempelajari dan tentunya juga mempelajari Open Source Software itu. Tentu saja ia tidak suka pada seseorang yang hanya berniat mempelajari Open Source tapi tidak melaksanakannya. :D
Dari banyak pertanyaan yang saya lontarkan, ada satu pertanyaan yang menurutnya merupakan pertanyaan kritis. Maaf, bukan bermaksud menyombongkan diri, tapi memang seperti itulah katanya. Hal ini bagus karena (menurutnya) aku tidak menelan mentah-mentah semua yang dikatakannya. Pertanyaan itu adalah, “Jika sebuah rumah dianalogikan sebagai software dan kode sumber dianalogikan sebagai kuncinya, maka bukankah dengan adanya Open Source Software kita seperti memberikan kunci rumah itu secara gratis dan cuma-cuma kepada siapapun sehingga semua orang bebas memasukinya, bahkan seorang pencuri sekalipun?”
Mas Agung menjawab bahwa hal itu kurang tepat, karena saya belum benar dalam menganalogikannya (ia memang mengatakan bahwa saya belum benar, bukannya salah :D). Apa alasannya?
Alasan pertama adalah penganalogian rumah sebagai software dan kode sumber sebagai kunci. Yang perlu kita ketahui adalah perbedaan analogi rumah dengan software. Rumah bukanlah sebuah perangkat yang digunakan untuk kepentingan orang banyak, sedangkan software adalah perangkat yang digunakan oleh orang banyak. Akan lebih tepat jika kita kita menganalogikan rumah sebagai jembatan. Dalam Open Source Software, semua orang diberi kebebasan (kunci) untuk menggunakan jembatan itu (padahal Open Source Software memperbolehkan lebih dari sekedar menggunakan, bahkan memodifikasi. Tapi secara sederhana cukup menggunakan saja). Sedangkan dalam Non Open Source Software atau proprietary software tidak demikian. Untuk penggunaan jembatan itu saja kita diharuskan untuk memiliki kunci, padahal kunci jembatan itu hanya dimiliki oleh si pemilik jembatan. Untuk mendapatkannya, tentu kita harus membayar dalam jumlah tertentu.
Alasan kedua yaitu, dengan semakin bebasnya orang-orang dalam menggunakannya, maka otomatis akan semakin banyak pula yang mengawasi. Bandingkan dengan proprietary software yang hanya diawasi oleh tim pengembang dari perusahaan produsen, karena itu adalah software milik perusahaan itu dan lisensinya pun atas nama perusahaan itu, sehingga perkembangan software pun menjadi kurang cepat. Perbaikan pada bugs, hole, atau backdoor juga berjalan lambat. Pada Open Source Software, penggunaan dan pengembangan software diawasi oleh banyak orang dari seluruh dunia, karena software itu adalah milik bersama, milik semua orang dan lisensinya pun atas nama semua orang atau yang biasa disebut dengan GPL (General Public Lisence), sehingga perkembangan software relatif lebih cepat. Perbaikan pada bugs, hole, atau backdoor juga berjalan lebih cepat.
Itulah alasan mengapa walaupun terbuka, Open Source Software tetap aman untuk digunakan. Sebetulnya ada alasan lain, tapi Mas Agung mengatakan bahwa saya mungkin belum bisa mengerti maksudnya, sehingga ia pun belum akan mengatakannya, Mungkin ada suatu saat nanti ketika saya akan mengetaui semuanya, aku tunggu jawabanmu Mas Agung. . . :D
referensi: Mas Agung :)
Dari banyak pertanyaan yang saya lontarkan, ada satu pertanyaan yang menurutnya merupakan pertanyaan kritis. Maaf, bukan bermaksud menyombongkan diri, tapi memang seperti itulah katanya. Hal ini bagus karena (menurutnya) aku tidak menelan mentah-mentah semua yang dikatakannya. Pertanyaan itu adalah, “Jika sebuah rumah dianalogikan sebagai software dan kode sumber dianalogikan sebagai kuncinya, maka bukankah dengan adanya Open Source Software kita seperti memberikan kunci rumah itu secara gratis dan cuma-cuma kepada siapapun sehingga semua orang bebas memasukinya, bahkan seorang pencuri sekalipun?”
Mas Agung menjawab bahwa hal itu kurang tepat, karena saya belum benar dalam menganalogikannya (ia memang mengatakan bahwa saya belum benar, bukannya salah :D). Apa alasannya?
Alasan pertama adalah penganalogian rumah sebagai software dan kode sumber sebagai kunci. Yang perlu kita ketahui adalah perbedaan analogi rumah dengan software. Rumah bukanlah sebuah perangkat yang digunakan untuk kepentingan orang banyak, sedangkan software adalah perangkat yang digunakan oleh orang banyak. Akan lebih tepat jika kita kita menganalogikan rumah sebagai jembatan. Dalam Open Source Software, semua orang diberi kebebasan (kunci) untuk menggunakan jembatan itu (padahal Open Source Software memperbolehkan lebih dari sekedar menggunakan, bahkan memodifikasi. Tapi secara sederhana cukup menggunakan saja). Sedangkan dalam Non Open Source Software atau proprietary software tidak demikian. Untuk penggunaan jembatan itu saja kita diharuskan untuk memiliki kunci, padahal kunci jembatan itu hanya dimiliki oleh si pemilik jembatan. Untuk mendapatkannya, tentu kita harus membayar dalam jumlah tertentu.
Alasan kedua yaitu, dengan semakin bebasnya orang-orang dalam menggunakannya, maka otomatis akan semakin banyak pula yang mengawasi. Bandingkan dengan proprietary software yang hanya diawasi oleh tim pengembang dari perusahaan produsen, karena itu adalah software milik perusahaan itu dan lisensinya pun atas nama perusahaan itu, sehingga perkembangan software pun menjadi kurang cepat. Perbaikan pada bugs, hole, atau backdoor juga berjalan lambat. Pada Open Source Software, penggunaan dan pengembangan software diawasi oleh banyak orang dari seluruh dunia, karena software itu adalah milik bersama, milik semua orang dan lisensinya pun atas nama semua orang atau yang biasa disebut dengan GPL (General Public Lisence), sehingga perkembangan software relatif lebih cepat. Perbaikan pada bugs, hole, atau backdoor juga berjalan lebih cepat.
Itulah alasan mengapa walaupun terbuka, Open Source Software tetap aman untuk digunakan. Sebetulnya ada alasan lain, tapi Mas Agung mengatakan bahwa saya mungkin belum bisa mengerti maksudnya, sehingga ia pun belum akan mengatakannya, Mungkin ada suatu saat nanti ketika saya akan mengetaui semuanya, aku tunggu jawabanmu Mas Agung. . . :D
referensi: Mas Agung :)


06.28
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar